Vibenya reflektif, tapi tidak berat. Seperti obrolan santai di sore hari, ketika seseorang tiba-tiba bertanya, “Kamu lagi ke mana sih sebenarnya?” Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya tidak pernah sesingkat itu.
Yang paling terasa dari artikel ini adalah bahasanya yang ringan dan dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tidak kaku, tidak sok bijak. Kalimat-kalimatnya mengalir dengan cara yang akrab, membuat pembaca merasa dipahami. Cocok untuk dibaca di sela-sela tugas, atau saat pikiran sedang penuh tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Pesan yang dibawa pun positif. Artikel ini pelan-pelan mengingatkan kita untuk menghargai waktu, berani bermimpi, dan—yang sering paling sulit—menikmati proses. Salah satu kalimat yang cukup membekas adalah:
“Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi tentang bagaimana kita menikmati setiap langkah.”
Kalimat sederhana, tapi rasanya pas dengan kondisi banyak orang yang sering merasa tertinggal.
Secara struktur, tulisan ini rapi. Pembahasan dibagi menjadi tiga bagian: waktu, mimpi, dan perjalanan hidup. Pembaca diajak berjalan dari satu topik ke topik lain tanpa tersesat. Alurnya jelas, tidak lompat-lompat, dan enak diikuti sampai akhir.
Meski begitu, ada beberapa hal yang terasa bisa diperdalam. Artikel ini masih terasa cukup umum. Andai penulis menyelipkan satu atau dua cerita pribadi—tentang kegagalan kecil, mimpi yang sempat goyah, atau momen sederhana yang mengubah cara pandang—tulisannya pasti akan terasa lebih “hidup” dan mengena di hati.
Beberapa bagian juga terasa sedikit berulang, seolah menegaskan ide yang sama dengan kalimat berbeda. Mungkin bisa dipadatkan agar pesannya tetap kuat tanpa terasa berputar di tempat yang sama. Selain itu, insight yang disampaikan masih di permukaan. Padahal, akan menarik jika penulis berani masuk lebih dalam, misalnya membahas bagaimana caranya tetap mengejar mimpi di tengah realita yang tidak selalu ramah.
Ke depannya, artikel ini bisa makin kuat dengan tambahan kutipan tokoh inspiratif atau pertanyaan reflektif di akhir tulisan. Pertanyaan sederhana seperti, “Mimpi apa yang sedang kamu perjuangkan sekarang?” bisa membuat pembaca berhenti sejenak dan benar-benar terlibat secara emosional.
Secara keseluruhan, “Tentang Waktu, Mimpi, dan Perjalanan Hidup” adalah tulisan yang hangat, bermakna, dan cocok dibaca saat sedang butuh pengingat. Ia belum sempurna, tapi justru itu yang membuatnya terasa manusiawi. Tulisan ini pas untuk mahasiswa—atau siapa pun—yang sedang mencoba memahami hidupnya sendiri, satu langkah demi satu langkah.